Make your own free website on Tripod.com

ASAL USUL MARGA LUBIS - NAMORA PANDE BOSI (DAENG MALELA)

Selama berabad-abad lamanya dan sampai sekarang masyarakat Mandailing mempercayai bahawa Namora Pande Bosi adalah nenek moyang orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis. Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang benama Sigalangan di Tampanuli Selatan. Kemudian berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai Pandai Bosi yang Mulia. Namora Pande Bosi dan Isterinya bergelar Nan Tuan Layan Boyan* Mendapat dua orang anak lelaki yang diberi nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis.

Pada satu ketika Namora Pande Bosi pergi menyumpit burung ke tengah hutan. Di sana dia bertemu dengan seorang Bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinan itu , Namora Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing diberi nama Si Lang Kintang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya dan kembali ke Hatongga.

Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi mencari bapa mereka dan menemukannya di atongga. Lalu mereka tinggal bersama keluarga bapa mereka di tempat tersebut. Tidak beberapa lama kemudian terjadilah perselisihan antara anak-anak Namora Pande Bosi itu dengan anak-anaknya bersama puteri Raja Sigalangan.

Maka Namora Pande Bosi menyuruh anaknya Si Langkitang dan Si Baitang meninggalkan Hatongga. Mereka di suruhnya pergi ke daerah Mandailing dan jika mereka tiba di tempat di mana terdapat dua sungai yang mengalir dari dua arah yang tepat bertentangan (dalam bahasa Mandailing dinamakan muara patontang) di situlah mereka membuka pemukiman baru.

Setelah lama mengembara akhirnya Si Langkitang dan Si Baitang sampai ke muara Patontang, lantas mereka membuka pemukiman baru di tempat itu.

Isterinya Nan Tuan Layan Boyan yang meninggal kemudian dimakamkan di satu tempat yang bernama Hombang Bide, lebih kurang 2km dari Hatongga. Makamnya masih ada di situ sampai sekarang.

Semua keturunan Si Langkitang dan Si Baitang yang tersebar di seluruh tanah Mandailing dan di tempat-tempat lain dikenali sebagai orang-orang Mandailing yang bermarga Lubis.

Dalam tarombo Marga Lubis yang disusun oleh Raja Junjungan pada tahun 1897, ada juga tercatat bahawa nama isteri Namora Pande Bosi ialah, Boru Dalimunte Naparila ertinya Puteri Dalimante yang pemalu.

MAKAM NAMORA PANDE BOSI

Dengan petunjuk dari keturunan Raja Sigalangan, makam Namora Pande Bosi ditemui pada tahun 1963 di Hatongga. Makam tokoh legenda yang sangat terkenal itu terletak di tengah sawah penduduk setempat.

Makam tersebut berada lebih kurang 2km jauhnya dari jalan raya Lintas Sumatera yang melalui desa Sigalangan, lebih kurang 14km jauhnya dari kota Padang Sidompuan (ibu kota Kabupaten Tampanuli Selatan).

Atas usaha sebilangan orang Mandailing bermarga Lubis, lebih kurang 1.6km panjangnya jalan dari desa Sigalangan ke arah makam Namora Pande Bosi sudah dibangunkan sehingga dapat di lalui dengan kenderaan bermotor (kereta).

NAMORA PANDE BOSI Oleh Mohammad Said Petikan dpd hompage Razaaq Lubis: www.mandailing.org

Pengarang terkenal termasuk Atjeh Sepanjang Sejarah, memberi tanggapan tentang kemungkinan masa munculnya tokoh Namora Pande Bosi yang dipandang sebagai nenek moyang marga Lubis.

"Dalam tahun 1887 diketahui oleh penguasa Belanda bahwa Raja Gunung Tua (Padang Lawas) menyimpan sebuah patung pusaka dari tembaga, dikenal sebagai patung batara Lokanatha. Patung itu diambil Belanda dan kini disimpan di Museum Pusat. Sarnaja Brandes yang segera meneliti patung itu, berhasil memperkenal teksnya huruf Kawi sebagai berikut:

Sarjana tersebut menterjemahkan kalimat permulaaan prasasti di atas ke bahasa Belanda sebagai berikut:

"Heil" Caka-jaren verloopen 946, in de maand Caitra op den derden dag van lichte helft dan de maand of vrijdag, toen heeft Surya, de meester smid did beeld van den). Heere Lokanatha vervaardigd..."

Terjemahan bebas ke bahasa Indonesia demikian: "Dirgahayu Tahun Caka 946 bulan Caitra, hari ke-3 bertepatan Juma'at dewasa itulah Surya, panda besi, selesai mengukir (patung) batara Lokanatha ini..."

Diperlihatkan pada teks aslinya tentang tokoh Surya, disebut jurupandai. Pada salinan bahasa Belanda dipertegaskan dengan istilah meester smid, yang artinya tidak lain pandai besi. Ini serta merta mengingatkan kita akan nama Pande Bosi, jelasnya Namora Pade Bosi. Dari ukiran itu dapat dipahami bahwa Suraya telah berhasil membuat patung seorang dewa atau batara yang tentunya untuk dipersonifikasikan menjadi pujaan rakyat dewasa itu. Seorang ahli dan tanpa kuatir akan tertimpa ketulahan menukangi tembaga untuk jadi pujaan, bukannya seorang sembarangan atau tukang biasa saja. Ia tentunya selain ahli adalah juga seorang yang terkemuka, berderajad dan amat disegani. Sedikit banyaknya dengan nama itu biasa juga membuat kita mengarahkan pertanyaan, apakah tokoh itu bukan tokoh zaman dulu yang dikenal rakyat bernama Namora Pande Bosi. Tentunya bukan sekedar kebetulan saja ada seorang jurupandai de meester smid pembuat Lokanatha, sedangkan ada juga Pandai Bosi yang dikenal oleh rakyat dari abad ke abad. Dari sumber lain dapat ditambahkan, bahwa sebelum Namora Pande Bosi yang bermukim di Hutalobu Hatongga Sigalangan masih ada lagi yang bernama Namora Pande Bosi, yaitu kakek (datuk) dari kakek Namora Pande Bosi yang di Hutalobu tersebut di atas. Namora Pande Bosi I tersebut bermukim di Padang Bolak Ruar Tonga (Sahit ni Huta).

Menoleh latar belakang ini 3 kemungkinan dapat diperkirakan mengenai kapan Namora Pande Bosi itu. Yakni:

1) Zaman Surya tahun 946 atau sekitar tahun 1024 M, karena Surya adalah seorang juru pandai besi

2) Zaman eskpansi Majapahit tahun Caka 1287 (1365 M) karena Gajah Mada mengetahui suatu kerajaan Mandailing yang tentunya dipimpin oleh seorang terkemuka, diperkirakan Namora Pande Bosi

3) Zaman yang lebih muda yaitu hanya sekitar abad ke 16 M. Menurut tambo (stamboom) yang diperbuat atau disimpan oleh Soetan Koemala Boelan.

Mengenai zaman Surya, kemungkinanya dapat diperhatikan dari patung Lokanatha tersebut di mana disebut ada seorang pandai besi bernama Snya. Bahwa nama itu tidak pernah dikenal (baca: tidak pernah disebut-sebut) oleh penduduk, tidaklah merupakan persoalan, sebab adalah biasa bahwa penduduk tidak pernah menyebut nama pribadi tokoh yang dihormati, sehingga apa yang diketahui adalah gelar yang diambil dari keistimewaannya, yaitu Namora Pande Besi. Bahwa jarak zaman itu cukup jauh dengan apa yang sebegitu jauh diketahui oleh penduduk nama keturunan terdekat sesudah Namora Pande Bosi, si Langkitang dan si Baiting (pura kembar Namora Pande Bosi) bukan sesuatu yang mustahil. Karena bukan jarang, sesuatu cerita dari mulut ke mulut bisa saja melangkahi beberapa generasi sebelum sampai kepada si Langkitang dan si Baitang. Atau sesudah si Langkitang dan si Baitang. Atau sesudah si Langkitang dan si Baitang ada lagi beberapa generasi di antaranya sebelum sampai kepada si Alogo Raja Partomuan (yang disebut sebagai anak si Baitang).

Mengenai ke-2 (zaman Majapahit), kemungkinannya dapat dilihat dari masa ekspansi kerajaan tersebut ke Mandailing, yaitu sekitar tahun 1365. Bukan mustahil bahwa di bawah Namora Pande Bosilah kerajaan Majapahit terdengar kepada Mangkubumi Gajah Mada, yang membuat ia merencanakan nama Mandailing turu dalam sumpah Palapanya. Mengenai masa ke-3, bilan diambil dari nama tokoh-tokoh yang diketahui menjadi keturunan dinasti Pande Bosi dari sekedar mendapat 12 generasi, sebagai yang dapat diteliti dari silsilah atau keturunan Namora Pande Bosi itu ke sebelah cabang yang menurun kepada Soetan Koemala Boelan, * kalau ini hendak dijadikan pegangan jaraknya dari zaman Namora Pande Bosi sampai Soetan Koemala Boelan hanya sekitar 300 tahun saja.

Mana yang lebih tempat dari 3 masa tersebut, tentu meminta waktu untuk memperoleh penegasannya. Saya sekedar memperlihatkan arah studi. Andai kata Namora Pande Bosi memeritah Tapanuli Selatan termasuk Padang Lawas, mungkin ia pernah beribu kota Gunung Tua tempat patung Lokanatha disimpan sebagai barang pusaka oleh raja Gunung Tua yang disebut oleh kontroler Belanda ditemunya pada tahun 1885 itu".

Kutipan panjang di atas jelas menunjukkan betapa sukarnya mencari kepastian mengenai sejarah dan perkembangan masyarakat Mandailing dimasa lalu.

* Soetan Koemala Boelan lahir 8 Maret/Mac 1888, meninggal 21 Juni/Jun 1932. Beliau menjadi Raja Panusunan Bulung di Tamiang, Mandailing Julu dari tahun 1915 sampai tahun 1932. Beliau adalah seorang raja marga Lubis keturunan Namora Pande Bosi

 

 

Sign my Guestbook FREE GUESTBOOKSView my Guestbook

Astra Radio


"BLOG sma Lubis"xxx

View more of Shamsuddin's tree  |   Get your own family tree at Geni.com
xxx